Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)
Senin, 28 Februari 2011
Minggu, 20 Februari 2011
Hati-Hati-lah Dengan Godaan dan Tipudaya Syaitan
Iman dan Taqwa seseorang dapat naik dan turun dinamis sesuai dengan kesungguh-sunguhannya dalam menjaga nikmat-nikmat tersebut. Didalam zaman modern seperti ini ternyata untuk menjaga nikmat-nikmat yang sangat mulia dan tinggi tersebut tidak mudah. Banyak godaan yang langsung dibisikkan oleh syaitan kedalam hati untuk mempengaruhi manusia agar secara perlahan-lahan melupakan nikmat yang sedemikian besar, sebagaimana Allah telah berpesan kepada manusia dalam firmannya yang artinya
.
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)
.
Syaitan yang begitu lihai menipu daya manusia dengan tipuan yang dipulas dan diputar balik sehingga banyak manusia yang tertipu oleh bisikan dan bujukan serta tipu dayanya
.
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. 7:20)
.
Dan tidak ada yang mampu untuk menangkal kehebatan syaitan dalam menipu daya manusia kecuali jika manusia kembali kepada jalan Allah
.
Iblis berkata:”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. 15:39)
keculi hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. (QS. 15:40)
Allah berfirman:”Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). (QS. 15:41)
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS. 15:42)
.
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)
.
Syaitan yang begitu lihai menipu daya manusia dengan tipuan yang dipulas dan diputar balik sehingga banyak manusia yang tertipu oleh bisikan dan bujukan serta tipu dayanya
.
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. 7:20)
.
Dan tidak ada yang mampu untuk menangkal kehebatan syaitan dalam menipu daya manusia kecuali jika manusia kembali kepada jalan Allah
.
Iblis berkata:”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. 15:39)
keculi hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. (QS. 15:40)
Allah berfirman:”Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). (QS. 15:41)
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS. 15:42)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:21)
.
Hanya orang-orang yang berlindung kepada Allah-lah yang dapat selamat dari tipu daya syaitan. Walaupun zaman hari ini manusia telah dibukakan oleh Allah dengan terbukanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luas dan sangat luar biasa besarnya, namun tetap saja manusia tidak akan mampu menghadapi godaan dan tipu daya syaitan kecuali jika mereka kembali kejalan Allah, kembali beribadah kepada Allah dan kembali menta’ati syareat yang datangnya dari Allah, Sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bila mereka kembali ke jalan Allah maka mereka akan mendapatkan kekuatan dari Allah untuk dapat dengan mudah menghadapi bisikan dan tipu daya syaitan
.
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)
.
Hanya orang-orang yang berlindung kepada Allah-lah yang dapat selamat dari tipu daya syaitan. Walaupun zaman hari ini manusia telah dibukakan oleh Allah dengan terbukanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luas dan sangat luar biasa besarnya, namun tetap saja manusia tidak akan mampu menghadapi godaan dan tipu daya syaitan kecuali jika mereka kembali kejalan Allah, kembali beribadah kepada Allah dan kembali menta’ati syareat yang datangnya dari Allah, Sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bila mereka kembali ke jalan Allah maka mereka akan mendapatkan kekuatan dari Allah untuk dapat dengan mudah menghadapi bisikan dan tipu daya syaitan
.
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)
Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. 16:98)
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. 16:100)
.
Rasulullah dan para sahabatnya telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai bukti nyata tentang kebenaran Allah dan janji-janji Allah kepada umat manusia. Dan Juga sebagai bukti tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah yang wajib dipelajari dan difahami serta diamalkan oleh setiap orang yang pernah lahir di muka bumi.
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. 16:100)
.
Rasulullah dan para sahabatnya telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai bukti nyata tentang kebenaran Allah dan janji-janji Allah kepada umat manusia. Dan Juga sebagai bukti tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah yang wajib dipelajari dan difahami serta diamalkan oleh setiap orang yang pernah lahir di muka bumi.
Sunguh sangat-sangat menyesal orang-orang yang pernah hidup di muka bumi dan belum pernah membaca Al-Qur’an Firman Allah dan As-Sunnah bimbingan yang diberikan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sebaliknya sungguh berbahagialah orang-orang yang menemukan Al-Qur’an dan as-Sunnah dan kemudian pandai berendah diri kepada Allah Tuhan Semesta Alam dan rajin serta tekun belajar dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah maka hidupnya penuh dengan cahaya kemuliaan, kebahagiaan, keselamatan, ketenteraman, kedamaian, ketenangan sejak di dunia hingga di akherat. Semoga kita termasuk golongan yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah, Aamien…Wallahu a’lam.
Kamis, 17 Februari 2011
Hadist Arbain yang ke 5
Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.
Selasa, 15 Februari 2011
ANTARA MATA DAN HATI
Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.
Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)
Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".
Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)
Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.
Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Kamis, 03 Februari 2011
KOST dan MAHASISWI (beserta kegiatannya), Apa hubungannya ya???
Inilah beberapa inti sari pertanyaan yg sy tanyakan kepada responden (mahasiswi yang kost) :
1. Bagaimanakah keadaan lingkungan kostnya?
2. Apakah ada pengaruhnyan terhadap keadaan yang bersangkutan?
3. Apakah jika keluar ada acara apa itu (misal agenda kemahasiswaan atau agenda yang lain) tetap minta izin dari orang tua / langsung berangkat saja walau orang tua yang dirumah tidak tahu, karena setahu beliau yang dirumah kita dikampus untuk kuliah?
4. Bagaimana pendapat yang bersangkutan jika anak putri (mahasiswi) terkait keluar malam adakah batasan2 tertentu? Terkhusus acara sampai menginap dsb nya di luar kost?
Jawaban dari koresponden bermacam-macam, dan setelah sy "resume" yang insyaAlloh mewakili semua jawaban yang ada, sebagai berikut :
1. Lingkungan kost rata2 sudah aman terkendali, ada aturan2 dari kost yang bersangkutan terkait apabila ada tamu putra. Bahkan ada yang kostnya di pesantren mahasiswi...
2. Sangat berpengaruh (karena lingkungan sangat berpengaruh bagi seseorang, bauk secara cepat maupun lambat). Berusaha untuk tetap mewarnai kebaikkan jangan sampai kita yang terwarnai yang kurang baik.
3. Sebagian besar masih yang tetap izin ke orang tuanya, tapi ada pula yang izin ke kakaknya :-)
walaupun ada beberapa lagi yang tidak izin ke orang tuanya :-(
4. Keluar malam gak apa asal ditemani mahrom atau ada agenda syar'i atau agenda yang bermanfaat... Yang penting masih ada batasan2 di tempat keluar malam tersebut...
Kepada semua repsonden (tidak perlu sy sebut namanya), sy ucapkan terimakasih....
InsyaAlloh kapan2, sy minta pendapatnya lagi ^_^
Semoga bermanfaat bagi semuanya....
1. Bagaimanakah keadaan lingkungan kostnya?
2. Apakah ada pengaruhnyan terhadap keadaan yang bersangkutan?
3. Apakah jika keluar ada acara apa itu (misal agenda kemahasiswaan atau agenda yang lain) tetap minta izin dari orang tua / langsung berangkat saja walau orang tua yang dirumah tidak tahu, karena setahu beliau yang dirumah kita dikampus untuk kuliah?
4. Bagaimana pendapat yang bersangkutan jika anak putri (mahasiswi) terkait keluar malam adakah batasan2 tertentu? Terkhusus acara sampai menginap dsb nya di luar kost?
Jawaban dari koresponden bermacam-macam, dan setelah sy "resume" yang insyaAlloh mewakili semua jawaban yang ada, sebagai berikut :
1. Lingkungan kost rata2 sudah aman terkendali, ada aturan2 dari kost yang bersangkutan terkait apabila ada tamu putra. Bahkan ada yang kostnya di pesantren mahasiswi...
2. Sangat berpengaruh (karena lingkungan sangat berpengaruh bagi seseorang, bauk secara cepat maupun lambat). Berusaha untuk tetap mewarnai kebaikkan jangan sampai kita yang terwarnai yang kurang baik.
3. Sebagian besar masih yang tetap izin ke orang tuanya, tapi ada pula yang izin ke kakaknya :-)
walaupun ada beberapa lagi yang tidak izin ke orang tuanya :-(
4. Keluar malam gak apa asal ditemani mahrom atau ada agenda syar'i atau agenda yang bermanfaat... Yang penting masih ada batasan2 di tempat keluar malam tersebut...
Kepada semua repsonden (tidak perlu sy sebut namanya), sy ucapkan terimakasih....
InsyaAlloh kapan2, sy minta pendapatnya lagi ^_^
Semoga bermanfaat bagi semuanya....
Senin, 31 Januari 2011
DAMPAK DOSA BAGI JIWA RAGA
Setiap orang tentu tak luput dari melakukan dosa dan kesalahan. Yang membedakan, di antara manusia ada yang terus menerus melakukan dosa tanpa mau bertobat, sementara sebagian yang lain segera menyadari kesalahannya dan bertobat kepada Allah –ta’ala–.
Sesungguhnya, dosa baik besar maupun kecil, bila dilakukan secara terus menerus, akan berdampak sangat buruk bagi jiwa dan raga pelakunya. Tak jarang dosa itu juga menimbulkan bencana yang juga mengenai orang-orang di sekitarnya.
IBARAT RACUN DALAM TUBUH
Di antara bencana yang banyak menimpa kaum muslimin pada zaman ini adalah kemaksiatan dan dosa merajalela, serta menyebarnya kemungkaran dengan berbagai tingkatannya.
Ibnul Qayyim –rohimahulloh– berkata, “Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati, sama seperti bahaya racun-racun terhadap tubuh, dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda. Dan tidaklah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit, kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa.”
Ibnul Qayyim –rohimahulloh– berkata, “Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati, sama seperti bahaya racun-racun terhadap tubuh, dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda. Dan tidaklah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit, kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa.”
Begitulah dampak dosa bagi pelakunya. Orang yang sekali melakukan dosa dia enggan bertobat, maka ia akan tergoda untuk melakukan yang kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. Lalu dosa-dosanya itu akan semakin bertumpuk-tumpuk sehingga mengalahkan amal baiknya. Ibarat racun dalam tubuh, dosanya akan menggerogoti kesehatannya dari ke hari, sehingga tubuhnya kian lemah dan penuh penyakit.
Contoh konkrit kalau dosa itu bisa menimbulkan penyakit, adalah AIDS. Penyakit ini begitu cepat menular karena kemaksiatan (khususnya free seks dan homoseks) telah banyak dilakukan di mana-mana.
Dosa dan kemaksiatan juga bisa menimbulkan rasa was-was, jantung berdebar, darah tinggi serta stress bagi pelakunya.
Di dunia ini, banyak para pendosa yang mengaku atau terkenal sebagai orang hebat, namun sejatinya jiwanya merasa kering dan tertekan. Ia merasa terasing dari Rabb-nya. Meskipun memiliki semua fasilitas kenikmatan dunia, keterasingan itu akan tetap ia rasakan.
Sebagai contoh, lihatlah Hittler. Pemimpin Jerman yang perfeksionis dan kejam ini memilih mati dengan cara bunuh diri.
Sebagai contoh, lihatlah Hittler. Pemimpin Jerman yang perfeksionis dan kejam ini memilih mati dengan cara bunuh diri.
MENGHITAMKAN WAJAH DAN MENUTUP HATI
Abdullah bin Abbas ra berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya pada wajah seseorang, dan cahaya di dalam hati, keluasan dalam rezeki, kekuatan pada badan, kecintaan di tengah makhluk. Dan keburukan akan mengakibatkan kehitaman pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan dan kekurangan rezeki, serta kebencian di dalam hati para makhluk Allah.”
Perkataan Ibnu Abbas ini dipertegas oleh firman Allah –ta’ala–,
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia,’Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’” (Thaha: 124-126)
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia,’Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’” (Thaha: 124-126)
Contoh dosa yang bisa menghitamkan wajah adalah meninggalkan shalat. Sebaliknya, rajin membasuh wajah dengan air wudhu serta melaksanakan shalat wajib maupun sunnah, bisa membuat wajah cerah dan berseri-seri. Ini terjadi karena ketaatan kepada Allah itu cahaya, sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan. Semakin kuat kegelapan itu, semakin bertambah bingung orang yang meninggalkan shalat itu, hingga dia terjatuh dalam kesesatan-kesesatan tanpa dia sadari. Seperti orang buta yang keluar sendirian di kegelapan malam. Kegelapan itu akan bertambah kuat hingga tampak pada mata, lalu meluas meliputi wajah sehingga wajah itu berubah hitam dan dapat dilihat oleh siapa saja. Pada saat itulah timbul jarak antara dia dan manusia, terutama orang-orang saleh.Semakin besar jarak itu, semakin jauh dia dari mereka, dan dia pun tidak bisa mendapatkan berkah kemanfaatan dari mereka. Lalu dia menjadi dekat dengan para tentara setan seiring dengan jauhnya dia dari tentara Allah yang Maha Penyayang. Dan kondisi itu berakhir hingga di akhirat, saat dia akan merasakan balasan yang buruk, dan berkumpul dengan orang-orang yang celaka, yaitu pada hari mereka diajukan ke hadapan Allah yang Maha Perkasa.
“Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan adalah golongan yang merugi.” (al-Mujaadilah: 19)
“Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan adalah golongan yang merugi.” (al-Mujaadilah: 19)
PENYEBAB BENCANA
Sesungguhnya dosa-dosa dan kemaksiatan itu akan mendatangkan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Ibnul Qayyim –rohimahulloh– berkata,
“Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga, tempat kelezatan, kenikmatan, kemegahan dan kesenangan, menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah?
Apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat, rahmat berubah menjadi laknat, serta keimanan berubah menjadi kekafiran? Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung? Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi, lalu mereka seperti pohon kurma yang tumbang? Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka, sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas?
Sebab apakah yang menyebabkan Fir’aun tenggelam bersama kaumnya lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke neraka Jahannam? Tubuh mereka tenggelam, sementara ruh-ruh mereka terbakar. Sebab apakah yang mengubur Qarun dan rumahnya beserta seluruh hartanya? Sungguh, semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa!”
Realita saat ini, di mana-mana banyak terjadi bencana. Jika kita mau berkaca, niscaya kita pun akan menyadari, datangnya bencana-bencana itu akibat perilaku sebagian besar manusia yang melenceng jauh dari jalan lurus. Bahkan seringkali maksiat sudah dilakukan secara terang-terangan, tanpa rasa malu lagi.
“Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga, tempat kelezatan, kenikmatan, kemegahan dan kesenangan, menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah?
Apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat, rahmat berubah menjadi laknat, serta keimanan berubah menjadi kekafiran? Lalu sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung? Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi, lalu mereka seperti pohon kurma yang tumbang? Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka, sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas?
Sebab apakah yang menyebabkan Fir’aun tenggelam bersama kaumnya lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke neraka Jahannam? Tubuh mereka tenggelam, sementara ruh-ruh mereka terbakar. Sebab apakah yang mengubur Qarun dan rumahnya beserta seluruh hartanya? Sungguh, semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa!”
Realita saat ini, di mana-mana banyak terjadi bencana. Jika kita mau berkaca, niscaya kita pun akan menyadari, datangnya bencana-bencana itu akibat perilaku sebagian besar manusia yang melenceng jauh dari jalan lurus. Bahkan seringkali maksiat sudah dilakukan secara terang-terangan, tanpa rasa malu lagi.
Allah –ta’ala– berfirman,
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)
Sementara Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
“Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezhaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
“Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezhaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
Untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah –ta’ala–, tiada jalan lain bagi kita kecuali dengan bertobat dari dosa-dosa yang kita lakukan. Allah –ta’ala– sangat menyukai hamba-Nya yang bertobat setelah melakukan kesalahan.
Dari Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu–, Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda bahwa Allah –ta’ala– berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (Riwayat Tirmidzi, ia berkata, ”Hadits ini hasan shahih.”)
Kiranya hadits ini bisa memotivasi kita untuk bersegera memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Wallaahu a’lam. (***)
Kiranya hadits ini bisa memotivasi kita untuk bersegera memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Wallaahu a’lam. (***)
Banyak diilhami dari kitab al Jawaabul Kaafi li Man Sa ala ‘An ad-Dawa’ asy Syafi’ Ibnul Qayyim –rohimahulloh–.
Minggu, 30 Januari 2011
SYUKUR NIKMAT
Syukur adalah perasaan yang sering kali tidak bisa kita rasakan secara langsung. Kadang perlu perenungan yang mendalam. Karena kita tahu, nikmat Allah tidak hanya meliputi apa yang kita lihat dengan panca indra, namun juga meliputi nikmat lain yang ada di alam semesta ini.
Salah satu nikmat yang terbesar yang diberikan kepada hamba pilihan Allah adalah nikmat Iman dan Islam. Karena hanya dengan nikmat inilah, manusia pilihan yang disebut mukmin itu nantinya dapat menggapai ridho Allah, dan mencapai syurga Allah yang berjuta kali lebih baik dari pada langit dan bumi.
Allah berkuasa atas segala sesuatu, adalah hal yang mudah bagi Allah untuk menjadikan seluruh manusia ini mukmin atau kafir, namun telah dijadikan sebagian manusia beriman dan sebagian yang lain kafir, karena kasih sayang dan sifat adil Allah. Manusia bisa menggapai keimanan melalui sunatullah yang berlaku.
Fenomena yang terlihat di sekitar kita adalah nikmat yang berlimpah telah diberikan kepada hamba hamba Allah yang kafir. Mereka tampak lebih banyak mendapat kenikmatan berupa materi dan kenyamanan di dunia dari pada orang orang mukmin. Hal ini bisa dikatakan mengirikan hati. Namun Allah memberikan peringatan kepada kita untuk tidak merasa cemburu dan bersusah hati karena hal yang seolah menjadi ketimpangan ini. Karena sesungguhnya segala kenikmatan yang diberikan kepada mereka (orang orang kafir itu) di dunia bukan untuk memberi kebaikan kepada mereka, tapi justru semakin menjauhkan mereka dari Allah. Harta mereka tidak sedikitpun bisa menjadi penebus mereka dari azab Allah.
Sedangkan bagi orang yang beriman, telah dijanjikan tempat kembali yang paling baik di surga-Nya. Apa yang dikaruniakan oleh Allah dengan lantaran Iman dan Islam yang juga adalah karunia-Nya ini, tidak bisa sedikitpun dibandingan dengan apa yang ada di dunia.
Maka sungguh nikmat Iman dan Islam ini adalah nikmat yang harus disyukuri di atas segala galanya, dan dipelihara serta di jaga dalam hati kita.
Manusia dikarunia begitu banyak nikmat oleh Allah, tetapi sudah wata manusia yang buruk mereka selalu kuirang mensyukuri nikmat nikmat tersebut. Ini dikarenakan syetan selalu berusaha menjauhkan manusia dari bersyukur kepada Allah.
Ingatlah peringatan allah dalam surat Ibrahim ayat 7 :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumatkan: “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.”
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumatkan: “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.”
Indonesia seharusnya menjadi negara yang berkelimpahan berkah, karena indonesia adalah negara dengan pemeluk islam terbesar di dunia. Tanahnya sangat subur dan alamnya kaya raya, namun sedikitpun kekayaan dan kemakmuran itu tidak tampak, justru bencana datang secara beruntun menimpa negeri ini. Bahkan sepanjang 5 tahun terakhir ini telah terjadi 450 kali bencana.
Namun bagi orang orang yang tidak beriman, peringatan seperti apapun, azab yang diturunkan dan pertanda yang ditunjukkan oleh para rasul tidak menjadikan mereka beriman, namun mereka tetap tidak beriman, bahkan mereka menjadi semakin jauh dari Allah.
Marilah kita benar benar mesyukuri nikmat, dimana Allah menjadikan kita orang yang beriman, Allah memberikan rizki kepada setiap orang dan makhluk, tapi hidayahnya diberikan Allah kepada orang orang yang dicintaiNya.
Langganan:
Postingan (Atom)